Cinta Allah kepada Hamba

Cinta Allah kepada Hamba
Bukti-bukti Al Qur'an menunjukkan bahwa Allah SWT mencintai hamba-Nya.
"Allah Mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." (QS .Al Maidah : 54)
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur." [QS. Al Shaff : 4)
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri. [QS. Al Baqarah : 222)

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan orang yang tidak Dia cintai. Namun, Dia tidak memberikan keimanan kecuali kepada orang yang Dia cintai.” (HR Al Hakim & HR Al Bayhaqi dalam Syu’ab Al Iman melaui jalur Ibn Mas’ud)

Beliau juga bersabda, “Siapa saja yang merendahkan diri di hadapan Allah, maka Allah akan mengangkatnya. Siapa saja yang takabur di hadapan Allah, maka Allah akan menghinakannya. Siapa saja yang memperbanyak dzikir kepada Allah, maka Allah akan mencintainya.” (HR Ibn Majah melalui jalur Abu Sa’id)

Sabda Beliau yang lain, “Allah SWT berfirman, Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekatkan diri pada-Ku dengan berbagai amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi telinga yang membuatnya bisa mendengar dan menjadi mata yang membuatnya bisa melihat.” ([HR Al Bukhari melalui jalur Abu Hurairah)

Al Qur’an dan Hadits yang berbicara tentang cinta cukup banyak. Kecintaan hamba kepada Allah SWT itu nyata, hakiki, dan bukan sekedar ungkapan kiasan. Sebab, cinta dalam konteks ucapan sehari-hari biasanya diartikan sebagai “kecenderungan diri terhadap sesuatu yang sejalan (dengan selera diri tersebut)”. Diri, sesuai dengan definisi ini, adalah diri yang tidak sempurna dan kehilangan sesuatu yang sejalan dengan seleranya. Diri yang kemudian berusaha mendapatkan kesempurnaan dengan cara memenuhi sesuatu yang hilang itu. Dengan begitu, ia merasa senang dan nikmat. Cinta dalam pengertian seperti ini mustahil terjadi pada Allah SWT. Sebab, semua bentuk kesempurnaan, keindahan dan kecantikan itu adalah hak milik-Nya dan ada dalam genggaman-Nya sejak jaman azali. Itu pun akan abadi selama-selamanya. Semua itu tidak mungkin berubah atau menghilang dari genggaman-Nya. Jadi, Allah sama sekali tidak mempunyai kesamaan dengan selain Dia, kecuali dari segi dzat dan perbuatannya saja. Hanya Dzat dan perbuatan-Nya yang ada dalam wujud ini.

"Allah Mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." (QS Al Maidah : 54). Allah mencintai mereka berarti Allah mencintai diri-Nya sendiri. Jelasnya, Allah adalah segala yang ada dan tak ada yang ada selain Dia. Siapa saja yang mencintai dirinya, semua perbuatan dirinya, dan aneka ciptaan dirinya, maka itu berarti cintanya hanya pada diri dan segala yang terkait dengannya. Dengan demikian, apapun yang dicintai Allah tak lain adalah diri-Nya juga.

Apa yang disebut dengan kecintaan Allah kepada hamba-Nya haruslah ditafsirkan dan dikembalikan kepada beberapa arti berikut. Pertama, tersingkapnya tabir dari hati hamba tersebut sehingga ia dapat melihat-Nya. Kedua, Allah SWT menguatkan hamba tersebut untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ketiga, kehendak Allah untuk menjadikan hamba itu seperti itu pada jaman azali.

Kecintaan Allah kepada hamba dikatakan bersifat azali apabila itu dikaitkan dengan kehendak azali Allah yang telah memampukan hamba tersebut menempuh jalan menuju kedekatan pada-Nya. Jika dikaitkan dengan perbuatan Allah menyingkap tirai hati hamba tersebut, maka kecintaan Allah yang demikian itu bersifat baru yang terjadi melalui sebab-sebab tertentu. Ini sebagaimana difirmankan Allah dalam salah satu hadis qudsi : “Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunah dianggap sebagai sebab bagi kesucian hati dan terangkatnya tirai dari hati serta tercapainya kedekatan diri kepada Allah SWT. Semua itu jelas perbuatan Allah SWT dan kelembutan Dia terhadap hamba tersebut. Inilah arti kecintaan Dia kepada hamba itu.

Berikut ini beberapa contoh yang dapat menjelaskan paparan di atas.
Contoh pertama. Seorang raja mungkin saja mengijinkan abdi dalemnya untuk mendekatkan diri kepadanya. Ia mungkin pula mengijinkan sang abdi datang setiap saat semata karena raja itu menyukainya. Dengan kekuasaan yang dimiliki, mungkin sang raja ingin memberikan pertolongan kepada si hamba, atau sekedar ingin menikmati bertemu dan melihat sang abdi. Atau, bisa juga ingin berembuk dan meminta pendapatnya. Atau, mungkin saja raja ingin memberikan persediaan logistiknya. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa sang raja mencintainya, dalam arti ia menyukai si hamba karena memiliki beberapa hal yang sesuai dengan selera sang raja.

Contoh kedua. Kadang raja juga memperkenankan seorang hamba mendekatkan diri kepadanya dan tidak melarang masuk untuk menemui dirinya. Ini dilakukannya bukan karena ia ingin meminta bantuan atau memperoleh keuntungan apapun, tetapi semata karena hamba tersebut memang layak menjadi orang yang dekat dengan sang raja, bahkan sangat dekat. Ia memiliki budi pekerti luhur dan tabiat terpuji. Semata karena itu, sang raja menyukainya. Tidak ada maksud-maksud lain. Oleh karenanya, jika sang raja pada akhirnya mengangkat tabir antara dirinya dan hamba tersebut, maka itu bisa dikatakan ia mencintai abdinya. Ketika abdi dalem itu bisa berbuat sesuatu (akhlak mulia dan tabiat terpuji) yang menyebabkan terangkatnya tabir tersebut, maka itu berarti ia telah terhubung dengan sang raja. Ia pun menjadi dicintai.

Kecintaan Allah kepada hamba hanya dapat dimaknai sesuai contoh kedua, bukan contoh pertama, itupun dengan syarat tidak dipahami bahwa terjadi pergeseran posisi pada saat kedekatan antara Allah dengan hamba tersebut mengalami perubahan. Sebab, orang yang dicintai Allah pastilah dekat dengan-Nya. Kedekatan kepada Allah terjadi manakala hamba menjauhi sifat-sifat kebinatangan, perilaku kebuasan, dan adat setan serta berakhlak ketuhanan. Kedekatan disini adalah kedekatan sifat, bukan tempat. Orang yang sebelumnya tidak dekat kemudian menjadi dekat, maka ia dianggap telah mengalami pergeseran. Barangkali, berangkat dari pemahaman ini, ada yang mengira bahwa setiap kali kedekatan itu berubah, setiap kali itu pula sifat hamba dan Tuhan sama-sama berubah. Bukankah masing-masng jadi berdekatan setelah sebelumnya berjauhan? ini mustahil bagi Allah SWT, karena perubahan pada-Nya merupakan kemustahilan. Bahkan, Dia senantiasa berada dalam kesempurnaan dan keagungan sejak jaman azali hingga kini.

Contoh kondisi di atas yang berhubungan langsung dengan kedekatan orang per orang, mungkin bisa dikatakan sebagai berikut : dua orang dapat saling berdekatan dengan cara masing-masing bergerak untuk mendekat, atau, satu orang tetap di tempat, sementara yang lain bergerak mendekat. Artinya, satu orang bergeser, sementara yang lain tidak.

Begitu pula dengan kedekatan sifat. Seorang murid berusaha mendekati posisi gurunya dalam hal kualitas keilmuannya yang sudah sempurna. Sang guru berdiri di atas kualitas keilmuannya yang sempurna dan tidak bergerak turun ke posisi muridnya. Sementara itu, si murid bergerak dari bumi kebodohan naik ke ketinggian ilmu pengetahuan. Ia terus-menerus berubah dan naik sampai ia mendekati gurunya, sedangkan sang guru tidak berubah dan tetap dalam posisinya.

Demikianlah mestinya kita memahami bagaimana seorang hamba naik ke peringkat kedekatan dengan Allah SWT. Ketika sifatnya sudah menjadi sangat sempurna, ilmu dan penguasaannya terhadap hakikat permasalahan sudah sangat mumpumi, kemampuannya menaklukkan setan dan membungkam hawa nafsu sudah sangat maksimal, maka ketika itu pula ia sudah sangat mendekati peringkat kesempurnaan. Meski begitu, ia tak akan pernah mencapai puncaknya, karena puncak kesempurnaan mutlak hanya milik Allah SWT. Kedekatan masing-masing orang kepada Allah didasarkan atas kesempurnaannya. Memang, kadang terjadi seseorang murid dapat mendekati gurunya, menyamai, atau bahkan melebihi. Namun, hal ini mustahil terjadi kepada Allah SWT, karena kesempurnaan-Nya tidak terbatas. Lagi pula tidak mungkin seorang hamba dapat menempuh jalan hingga mencapai tingkat kesempurnaan. Ia pasti akan berhenti pada satu titik batas yang telah ditetapkan dan tidak bisa bercita-cita lebih jauh untuk menyamai Tuhan.

Kemudian tingkat kedekatan masing-masing hamba kepada Allah SWT pun berbeda-beda secara tidak terbatas. Sebab kesempurnaan itu sendiri tidak mengenal batas. Kalau begitu, maka kecintaan Allah kepada hamba-Nya mestilah dimaknai sebagai perbuatan Allah mendekatkan hamba kepada diri-Nya dengan cara menanggalkan kesibukan (dengan urusan dunia) kemaksiatan dari hamba itu, juga menyucikan batinnya dari kotoran-kotoran dunia, dan mengangkat tabir dari hatinya, sehingga ia dapat menyaksikan diri-Nya. Singkatnya, seolah-olah ia melihat Allah dengan kalbunya.

Sementara itu, kecintaan hamba kepada Allah SWT dimaknai sebagai kecenderungan untuk meraih kesempurnaan yang tidak ada pada dirinya. Apa yang tidak ada pada dirinya itulah yang pasti akan terus dirindukannya. Kalau sudah tercapai, walau hanya sebagian kecil saja, ia pasti merasa nikmat dan senang. Cinta dan kerinduan dalam arti ini jelas mustahil bagi Allah SWT.

Jika ada yang mengatakan, “kecintaan Allah kepada hamba-Nya merupakan persoalan yang masih rancu dan tidak jelas,” maka saya ingin bertanya, “Apa indikasi untuk mengetahui bahwa seseorang itu kekasih Allah?”

Untuk mengetahui indikasinya, kita patut menyimak sabda Rasulullah Saw di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Thabrani melalui jalur Abu ‘Utbah Al Khawlani: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya cobaan. Jika Dia sungguh-sungguh sangat mencintainya, maka Dia akan memilikinya.” Seorang sahabat bertanya, “maksudnya Dia akan memilikinya?” Beliau menjawab, “Dia tidak akan menyisakan keluarga dan harta sedikitpun untuknya.”

Jadi, indikasi kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah bahwa Allah SWT melepaskan orang itu dari ketergantungan kepada selain diri-Nya, juga menghalangi antara dia dan selain diri-Nya. Nabi Isa as pernah ditanya, “Mengapa engkau tidak membeli keledai saja sebagai kendaraanmu?” Beliau menjawab, “Aku lebih merasa mulia di sisi Allah dibandingkan dengan melupakan Dia gara-gara sibuk mengurusi keledai.”

Dalam hadits disebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya cobaan. Jika ia sabar, maka Dia akan memilihnya. Dan jika ia rela (menerima cobaan itu), maka Dia akan menyucikannya.” (HR Al Firdaws melalui jalur Ali Ibn Abi Thalib)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Manshur Al Daylami melalui jalur Ummu Salmah, Rasulullah Saw bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menjadikan sang pemberi peringatan kepada dirinya, juga sang pencegah terhadap hatinya yang akan memerintahnya dan melarangnya.” Beliau juga bersabda, “Jika Allah menghendaki seorang hamba itu baik, maka Dia akan memperlihatkan aib dirinya.”

Indikasi paling signifikan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah kecintaan hamba itu sendiri kepada Allah. Hal itu sekaligus merupakan bukti kecintaan Allah kepada hamba tersebut.

Adapun perbuatan yang menunjukkan bahwa seorang hamba dicintai Allah adalah bahwa Dia membimbing langsung semua urusannya, baik lahir maupun batin, baik yang transparan maupun yang rahasia. Dialah yang memberi petunjuk kepadanya, menghiasi akhlaknya, yang menggerakkan seluruh organ tubuhnya, serta meluruskan lahir dan batinnya. Dialah yang memfokuskan cita-citanya pada satu tujuan (yaitu Allah SWT), menutup hatinya dari dunia, dan merasa tidak berkepentingan terhadap selain Dia. Dialah yang menjadikan hamba itu merasa puas menikmati munajat dalam khalwat (kesendiriannya), juga menyingkap tabir antara Dia dan makrifatnya.

* Kitab Al Mahabbah wa al Syawq wa al Uns wa al Ridha, bab 10, Syaikh Hujjatul Islam Abu Muhammad Al Ghazali, 450 – 505 H

ReadmoreCinta Allah kepada Hamba

Khauf - Takut Kepada Allah

Khauf - Takut Kepada Allah
Abu al-Layts ra berkata; "Allah memiliki para malaikat di langit ketujuh. Mereka bersujud sejak Allah menciptakan mereka hingga hari kiamat. Mereka menggigil ketakutan karena takut kepada Allah SWT. Apabila hari kiamat tiba, mereka mengangkat kepala dan berkata, Maha Suci Engkau, kami menyembah-Mu dengan penyembahan yang sebenar-benarnya".

Itulah firman Allah SWT: Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (QS. An-Nahl [16]: 50). Yakni, mereka tidak berbuat maksiat kepada Allah sekejap mata pun.

Rasulullah Saw bersabda; "Apabila tubuh hamba menggigil karena takut kepada Allah SWT, dosa-dosanya berguguran seperti daun-daun yang berguguran dari pohon."

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki tertambat hatinya kepada seorang perempuan. Perempuan itu keluar untuk suatu keperluan. Laki-laki itu ikut pergi bersamanya. Ketika mereka berduaan di padang sahara, sementara orang lain sudah tertidur, laki-laki itu mengungkapkan isi hatinya kepada perempuan tersebut: Perempuan itu berkata,"Lihatlah, semua orang sudah tertidur."

Laki-laki tersebut senang mendengar kata-kata itu. Dia mengira bahwa perempuan itu telah memberikan jawaban kepadanya. Lalu, dia berdiri dan mengelilingi kafilah. Dia mendapati orang-orang sudah tertidur. Lalu, dia kembali kepada perempuan itu dan berkata, "Benar, mereka telah tidur." Namun, perempuan itu bertanya, "Apa pendapatmu tentang Allah, apakah Dia tidur pada saat ini?" Laki-laki itu menjawab, "Allah SWT tidak tidur. Dia tidak pernah terserang kantuk dan tidur". Perempuan itu berkata, "Dzat yang tidak tidur dan tidak akan tidur selalu melihat kita walaupun orang lain tidak melihat kita. Karena itu, Allah lebih pantas untuk ditakuti."

Akhirnya, laki-laki itu pun meninggalkan perempuan tadi karena takut kepada Sang Pencipta. Dia bertobat dan kembali ke kampung halamannya. Ketika dia meninggal, orang-orang bemimpi melihatnya. Ditanyakan kepadanya, "Apa tindakan Allah kepadamu?" Dia menjawab, "Dia mengampuniku karena ketakutanku itu. Dengan demikian, terhapuslah dosa tersebut."

Dikisahkan bahwa di tengah Bani Israil ada seorang ahli ibadah yang memiliki keluarga. Lalu, dia tertimpa kelaparan sehingga badannya menggigil. Istrinya pergi untuk mencari makanan bagi keluarganya. Kemudian, dia sampai di rumah seorang saudagar, dan bermaksud untuk meminta makanan untuk keluarganya. Kemudian saudagar itu berkata, "Ya, tapi serahkanlah dirimu kepadaku."

Perempuan itu terdiam dan kembali ke rumahnya. Dia perhatikan keluarganya yang sedang menjerit kelaparan dan berkata, "Ibu, kami akan mati karena kelaparan. Berikanlah sesuatu yang dapat kami makan."
Perempuan itu pergi lagi ke rumah saudagar tadi dan mengabarkan keadaan keluarganya. Saudagar itu bertanya, "Maukah engkau memenuhi keperluanku?" Perempuan itu menjawab, "Ya".

Ketika mereka sedang berduaan, persendian si perempuan itu mengigil sehingga anggota-anggota tubuhnya hampir terlepas dari badannya. Melihat keadaan itu, sang saudagar bertanya, "Ada apa denganmu?" Perempuan itu menjawab, "Aku takut kepada Allah." Saudagar itu berkata, "Engkau saja takut kepada Allah SWT dengan kemiskinanmu. Aku lebih pantas untuk takut kepada-Nya daripada dirimu."

Karena itu, dia menjauhi perempuan itu dan memenuhi kebutuhanya. Lalu, perempuan itu pulang menemui anak-anaknya dengan membawa kenikmatan yang banyak. Anak-anaknya pun sangat bergembira. Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as, "Sampaikan kepada fulan bin fulan bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosanya."

Lalu Nabi Musa as menemui saudagar itu dan berkata, "Tampaknya engkau telah mengerjakan kebajikan diantara dirimu dan Allah." Kemudian, saudagar itu menceritakan kisahnya. Nabi Musa as berkata, "Allah SWT Telah mengampuni dosa-dosamu." Demikianlah disebutkan di dalam Majma' al-Lathaif.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda; "Allah SWT berfirman: Pada hamba-Ku tidak berkumpul dua ketakutan dan dua rasa aman. Barangsiapa yang takut kepada-Ku di dunia, Aku akan memberikan keamanan kepadanya di akhirat. Sebaliknya, barangsiapa yang merasa aman kepada-Ku di dunia, Aku akan memberikan rasa takut kepadanya pada hari kiamat."

Tentang hal itu, Allah SWT Berfirman; "Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku". (QS al-Ma'idah [5]: 44).
"Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, melainkan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. Ali 'Imran [3]: 175).

Khalifah Umar ra pernah jatuh pingsan karena takut ketika mendengar bacaan suatu ayat Al Qur'an. Pada suatu hari, dia mengambil sebatang jerami, lalu berkata, "Aduhai, alangkah baiknya jika aku menjadi jerami dan tidak menjadi sesuatu yang disebut. Aduhai, alangkah baiknya jika dulu ibuku tidak melahirkanku." Dia menangis terisak-isak sehingga air mata membasahi pipinya. Oleh karena itu, pada wajahnya ada garis bekas tetesan air mata.

Rasulullah Saw bersabda, "Tidak masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali pada tetek."

Dalam Raqa'id al-Akhbar disebutkan: Hari kiamat didatangkan kepada hamba, maka kejelekan-kejelekannya lebih banyak daripada kebaikan-kebaikannya. Lalu, dia diperintahkan ke neraka. Bulu matanya berkata, "Wahai Tuhanku, Rasul-Mu Muhammad Saw telah bersabda; "Barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah, Dia mengharamkannya pada api neraka. Lalu, aku menangis karena takut kepada-Mu." Karena itu, Allah mengampuni dan mengeluarkannya dari neraka dengan berkah sehelai bulu matanya yang ketika di dunia pernah menangis karena takut kepada Allah SWT. Jibril as berseru, "Fulan bin fulan selamat karena sehelai bulu mata".

Dalam Bidayah al-Hidayah disebutkan: Pada hari kiamat, didatangkan Neraka Jahanam yang nyalanya bergemuruh, dan setiap umat berlutut karena takut kepadanya. Sebagaimana hal itu difirmankan Allah SWT: "Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya." (QS. al-Jatsiyah [45]: 28).

Ketika mendatangi neraka, mereka mendengar suara mendidih dan nyalanya. Gemuruh nyalanya terdengar hingga jarak perjalanan lima ratus tahun. Setiap para nabi berkata, "Diriku, diriku," kecuali Rasullullah Saw. Beliau berkata, "Umatku, umatku." Dari Neraka Jahim itu keluar api sebesar gunung. Umat Muhammad Saw berusaha mendorongnya. Mereka berkata, "Wahai api, demi hak orang-orang yang menegakkan shalat, yang bersedekah, yang khusyu' dan yang puasa, kembalilah." Namun, api itu tidak mati kembali maka dipanggillah Jibril as. Kemudian Jibril as datang dengan membawa segelas air, lalu diberikan kepada Rasulullah Saw. Jibril as berkata, "Wahai Rasulullah, ambillah ini, lalu siramkan pada api itu." Kemudian, beliau menyiramkannya pada api sehingga ketika itu pula api itu padam.

Lalu Rasulullah Saw bertanya, "Ini air apa?" Jibril as menjawab, "Ini adalah air mata orang-orang yang durhaka diantara umatmu. Mereka menangis karena takut kepada Allah SWT. Lalu, aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar disiramkan pada api itu, sehingga api itu menjadi padam dengan izin Allah SWT." Rasulullah Saw berdoa; "Ya Allah, anugerahilah aku dengan dua mata itu tidak menjadi seperti yang digambarkan penyair:
Mengapa mataku tak menangis
karena dosa-dosaku,
Umurku lepas dan tanganku
tetapi aku tak tahu."

Dikisahkan dari Muhammad bin al-Mundzir ra bahwa ketika dia menangis, wajah dan janggutnya dibasahi air mata. Dia berkata, "Telah sampai kabar kepadaku bahwa api neraka tidak akan membakar tempat-tempat yang pernah dibasahi air mata."

Karena itu, hendaklah orang mukmin takut akan azab Allah dan menjauhkan diri dari hawa nafsu. Allah SWT berfirman: "Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS an-Nazi'at [79]: 37 dan 41).

Barangsiapa yang ingin selamat dari azab Allah dan memperoleh pahala dan rahmat-Nya, hendaklah dia bersabar atas kesengsaraan dunia dan ketaatan kepada Allah, serta menjauhi kemaksiatan. Dalam Zahr al-Riyadh terdapat hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda, "Apabila para penghuni surga masuk ke dalam surga, para malaikat menemui mereka dengan segala kebaikan dan kenikmatan. Para malaikat itu menempatkan mimbar-mimbar untuk mereka. Diberikan kepada mereka berbagai macam makanan dan buah-buahan. Terhadap kenikmatan ini, mereka keheranan; Allah bertanya, "Wahai hamba-hamba-Ku, mengapa kalian tampak keheranan? Ini bukan tempat untuk merasa heran." Mereka menjawab, "Sesuatu yang dijanjikan kepada kami telah tiba waktunya." Allah SWT berfirman kepada para malaikat, "Angkatlah hijab dari wajah mereka." Namun, para malaikat bertanya, "Wahai Tuhan kami, bagaimana mereka akan melihat-Mu, bukankah dulu mereka adalah orang-orang yang durhaka?". Allah SWT menjawab, "Angkatlah hijab, karena mereka adalah orang-orang yang selalu berdzikir, bersujud, dan menangis di dunia karena ingin sekali-bertemu dengan-Ku."

Lalu, hijab itu diangkat. Mereka memandang Allah, lalu menjatuhkan diri untuk bersujud kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah berfirman kepada mereka, "Angkatlah kepala kalian. Ini bukan tempat untuk beramal, melainkan tempat kemuliaan."

Allah menampakkan diri kepada mereka tanpa diketahui bagaimana penampakan diri-Nya, dan dengan rasa bahagia berkata kepada mereka, "Salam sejahtera bagi kamu sekalian, wahai hamba-hamba-Ku. Aku telah ridla kepada kalian. Apakah kalian ridla kepada-Ku?" Mereka serentak menjawab, "Wahai Tuhan kami, bagaimana kami tidak ridla, padahal Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terpikirkan kalbu manusia."

Inilah makna firman Allah SWT: "Allah ridla terhadap mereka dan mereka pun ridla terhadap-Nya". (QS Ali 'Imran [3]: 119).

"(Kepada mereka dikatakan), "Salam," sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS Yasin [36]: 58).

ReadmoreKhauf - Takut Kepada Allah

Syaikh Ahmad bin Muhammad Abu al-Husain an-Nuri

Abu al-Husain an-Nuri: Sufi yang Diselimuti Cahaya
Dalam dunia Tasawuf, perjalanan seorang sufi yang berziarah ke berbagai tempat suci, bisa menampilkan berbagai perbuatan menjadi hikmah keruhanian dengan nilai-nilai spiritual yang luar biasa. Mereka meninggalkan jejak-jejak spiritual – adakalanya berupa karya tulis yang monumental – yang sampai sekarang tetap menjadi rujukan para penempuh jalan sufi.

Beberapa di antara mereka, misalnya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, Sarry As-Saqaty, Imam Abul Qasim Junayd al-Baghdadi, Syaikh Fariduddin Aththar, Abu Husain an-Nuri, dan sebagainya. Mereka adalah tokoh sufi garda depan yang hingga kini belum tertandingi ketokohannya. Seorang diantara mereka, yaitu Abu Husain an-Nuri, punya keistimewaan justru karena mendapat julukan “an-Nuri”, yaitu “Yang Mendapat Anugrah Cahaya” dari Allah SWT.

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad Abu al-Husain An-Nuri. Ia lahir di Baghdad, Irak, tidak jelas tahun berapa. Sementara nenek moyangnya berasal dari Khurasan, Iran. Yang pasti ia adalah salah seorang murid kesayangan Syaikh Sarry As-Saqaty dan sahabat Sufi besar Imam Junaid Al-Baghdadi. Mereka hidup di Irak pada abad ke III. Selama hidup ia tinggal di tepian sungai Tigris yang indah.

Ia mendapat julukan “An-Nuri”, karena kapanpun ia bicara di kegelapan malam, seberkas cahaya akan keluar dari mulutnya, hingga membuat terang sekelilingnya. Di riwayatkan juga bahwa ia mendapat julukan itu karena mengungkapkan rahasia-rahasia terdalam dengan cahaya intuisi, karena sikap dan gaya bicaranya yang bernas dan lembut, sementara pemikirannya sangat luas, dan konsekwen dengan sikapnya yang teguh.

Versi yang lain mengatakan bahwa ia dijuluki Nuri karena ia mempunyai sebuah tempat pengasingan di tengah padang pasir dimana ia biasa beribadah sepanjang malam. Orang-orang kerap keluar rumah untuk memperhatikannya, dan mereka melihat seberkas cahaya memancar keluar dari lubang pengasingannya sepanjang malam.

Abu al-Husain an-Nuri adalah salah seorang figur terkemuka kelompok sufi Baghdad. Ia menyusun sejumlah puisi mistis yang mengagumkan. Ia meninggal dunia pada tahun 295 H / 908 M.

Ia mengawali kehidupan mistiknya dengan sangat unik. Setiap dini hari, sebelum subuh, ia mengambil roti dari tokonya untuk ia sedekahkan. Setelah shalat subuh di masjid, ia kembali ke toko, orang-orang mengira ia telah sarapan di toko, sementara orang-orang di toko menyangka ia sudah makan pagi di rumah. Hal itu berlangsung selama 20 tahun tanpa seorang pun tahu. Kisah kewalian Abu Husain ini banyak diungkapkan dalam berbagai kitab, seperti Tadzkirul Awliya (Fariduddin Aththar), Ar-Risalah dan Kasyful Mahjub (Imam Qusyairi).

Tentang kehidupan mistiknya, Abu al-Husain menyatakan:
“Bertahun-tahun aku berjuang, mengekang diri dan meninggalkan pergaulan. Betapapun aku berusaha keras, jalan belum terbuka bagiku. Aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki diri. Kemudian kataku, “Wahai jasmaniku, bertahun-tahun sudah engkau menuruti hawa nafsu, sungguh semua itu akan mencelakakanmu. Sekarang masuklah ke dalam penjara. Akan ku belenggu dirimu dan akan kukalungkan pada lehermu semua kewajiban kepada Allah. Jika sanggup bertahan, engkau pasti meraih kebahagiaan. Tapi, jika tak sanggup, setidaknya engkau akan mati di jalan Allah, begitulah kataku.”

Mengenai perjalanan spiritualnya, ia berkata:
“Pernah kudengar, hati para mistikus merupakan alat yang awas waspada, mengetahui segala rahasia, baik yang terlihat maupun yang terdengar. Karena tidak memiliki hati seperti itu, aku pun berkata kepada diriku sendiri, “Ucapan para Nabi dan manusia suci adalah benar. Mungkin sekali selama ini aku telah bersikap munafik, sementara kegagalanku karena kesalahanku sendiri. Aku ingin merenungi diriku sendiri sehingga benar-benar mengenal-Nya”, begitulah kataku.

Setelah merenungi diri sendiri, Abu al-Husain menemukan hati dan nafsu itu bersatu. Lalu katanya:
“Bila hati dan nafsu bersatu, celakalah! Sebab, jika ada sesuatu yang menyinari hati, hawa nafsu akan menyerap sebagian. Maka sadarlah aku, inilah sumber dilema yang kuhadapi selama ini. Segala sesuatu yang datang dari hadirat Allah SWT dalam hatiku, sebagian diserap pula oleh hawa nafsuku.”

Sejak perenungan itulah, ia menghentikan segala perbuatan yang diperkenankan hawa nafsu. Ia berusaha hanya melakukan segala sesuatu yang “tidak diperkenankan” hawa nafsu. Lalu katanya, “Misalnya, hawa nafsuku berkenan aku berpuasa, bersedekah, shalat, menyepi atau bergaul dengan sahabat-sahabatku, maka aku akan melakukan hal sebaliknya. Akhirnya segala hal yang diperkenankan hawa nafsuku dapat kubuang dan rahasia-rahasia mistik mulai terbuka dalam diriku.”

Suatu hari, ia berdialog dengan diri sendiri. “Siapakah engkau?” tanyanya kepada diri sendiri. “Aku adalah mutiara tanpa hasrat, dan mutiaraku adalah mutiara tanpa maksud,” terdengar suara dalam dirinya. Kemudian ia menuju sungai Tigris dan melemparkan jala. “Aku tidak akan beranjak sebelum seekor ikan terjerat dalam jalaku,” ia bergumam. Tak lama kemudian, seekor ikan berkecupak di dalam jala. Saat aku mengambil ikan itu, aku memekik, “Segala puji bagi Allah, urusan-urusanku telah berjalan dengan baik!”

Aku pergi menemui Syaikh Junayd dan berkata padanya, “Sebuah karunia telah dianugrahkan padaku!”

“Abul Husain,” ujar Syaikh Junayd, “Jika seekor ular yang terjerat jalamu, dan bukannya seekor ikan, itu baru suatu tanda karunia. Namun karena dirimu sendiri terlibat (dalam mendapatkannya), itu adalah muslihat, bukan karunia. Karena tanda dari karunia adalah engkau tidak terlibat sama sekali.”

Ketika Ghulam al-Khalil menyatakan permusuhannya terhadap para sufi, ia menemui Khalifah dan menjelek-jelekkan mereka. “Sekelompok sufi telah muncul,” katanya. “Mereka menyanyi, menari dan menyatakan penghinaan-penghinaan terhadap Tuhan dan agama. Mereka berkumpul hampir setiap hari, bersembunyi dalam gua-gua, dan berkhotbah. Orang-orang itu adalah ahli bid’ah. Jika Amirul Mukminin berkenan mengeluarkan perintah untuk menghabisi mereka, maka ajaran bid’ah akan musnah, karena mereka adalah kepala para ahli bid’ah. Jika Amirul Mukminin melakukan hal ini, aku jamin anda akan mendapatkan pahala yang besar.”

Sang Khalifah segera memerintahkan agar mereka – Abu Hamzah, Raqqam, Syibli, Nuri, dan Junayd – dibawa ke hadapannya. Perintah Khalifah pun dilaksanakan. Kemudian Khalifah memerintahkan agar mereka dihukum mati. Awalnya, algojo diperintahkan untuk mengekskusi Raqqam terlebih dahulu, namun Nuri tanpa rasa takut sedikitpun bangkit mendekat dan mengambil tempat Raqqam.

“Bunuhlah aku lebih dulu, tertawa gembira,” pekiknya.

“Tuan, giliran anda belum tiba,” kata si Algojo padanya. “Pedang bukanlah sesuatu yang digunakan dengan tergesa-gesa.”

Nuri menjelaskan. “Jalanku didasari oleh pikiran. Aku lebih memilih sahabatku daripada diriku sendiri. Hal yang paling berharga di dunia ini adalah kehidupan. Aku ingin mempersembahkan sedikit waktuku yang tersisa ini untuk para saudaraku. Aku akan mengorbankan kehidupanku sendiri. Hal ini kulakukan walaupun dalam pandanganku suatu saat di dunia ini lebih berharga daripada seribu tahun di akhirat kelak. Karena dunia ini adalah kediaman penghambaan, sementara akhirat adalah kediaman kedekatan, dan kedekatan bagiku adalah penghambaan.”

Kata-kata Nuri ini dilaporkan kepada Khalifah. Sang Khalifah mengagumi ketulusan dan kefasihan Nuri. Ia memerintahkan untuk menunda eksekusi dan mengajukan kasus mereka kepada Hakim untuk diperiksa.

“Mereka tidak dapat dihukum tanpa bukti,” kata sang Hakim.

Sang Hakim kemudian menguji Nuri dengan masalah-masalah fiqih. Nuri langsung dapat menjawabnya, dan sang hakim pun membisu dalam kebingungan.

Nuri berkata:
“Wahai hakim, anda telah mengajukan semua pertanyaan ini, namun semua pertanyaan anda sama sekali tidak relevan. Karena Allah memiliki hamba-hamba yang berdiri melalui-Nya, bergerak dan diam melalui-Nya, yang hidup melalui-Nya, dan tinggal dalam dzikir kepada-Nya. Jika satu saat saja mereka tidak mengingat-Nya, maka jiwa-jiwa mereka akan keluar dari tubuh mereka. Melalui-Nya mereka tidur, melalui-Nya mereka makan, melalui-Nya mereka menerima, melalui-Nya mereka pergi, melalui-Nya mereka melihat, melalui-Nya mereka mendengar, dan melalui-Nya mereka berada. Inilah ilmu yang hakiki, bukan semua yang anda tanyakan tadi.”

Sang hakim kebingungan, lalu ia mengirim pesan kepada Khalifah, “Jika mereka ini atheis dan ahli bid’ah, maka aku akan memutuskan maka di seluruh permukaan bumi, tidak seorang pun yang bertauhid.”

Khalifah pun memanggil mereka.
“Adakah yang kalian inginkan?” tanya Khalifah.

“Ya,” jawab mereka. “Kami harap anda melupakan kami. Kami tidak ingin anda menghormati kami dengan persetujuan anda (terhadap keyakinan kami) ataupun menghukum kami dengan penolakan anda. Bagi kami, penolakan anda sama saja dengan persetujuan anda, dan persetujuan anda sama saja dengan penolakan anda.”

Sang Khalifah pun menangis pilu mendengarnya, dan membebaskan mereka dengan segala penghormatan.

Suatu hari Syaikh Junayd mengunjungi Abu al-Husain an-Nuri. An-Nuri tersungkur ke tanah dihadapan Syaikh Junayd, mengeluhkan ketidakadilan.

“Pertempuranku bertambah dahsyat, dan aku tak mempunyai kekuatan lagi untuk bertarung,” katanya. “Selama tiga puluh tahun, kapan pun Dia ada, aku lenyap, dan kapan pun aku mewujud, Dia lenyap. Kehadiran-Nya adalah ketidakhadiranku. Betapapun aku memohon, jawaban-Nya adalah: Aku atau engkau yang ada.”

Syaikh Junayd berkata kepada para muridnya. “Lihatlah dia, seorang lelaki yang telah berusaha keras dan dibingungkan oleh Allah.”

Sambil berpaling ke Abu al-Husain An-Nuri, Syaikh Junayd menambahkan, “Seharusnya apakah Dia terhijabi olehmu ataupun tersingkap melaluimu, engkau tidak boleh lagi menjadi dirimu, dan semuanya harus menjadi Dia.”

Seseorang menemui Syaikh Junayd dan berkata, “Sudah beberapa hari ini, siang dan malam, an-Nuri berkeliling dengan sebongkah batu di tangannya sambil berteriak, “Allah… Allah…” dia tidak makan apa-apa, dan tidak tidur. Namun dia masih mendirikan shalat pada waktunya dan menjalankan seluruh ritual shalat.”

Para murid Syaikh Junayd menanggapi, “Ia sadar. Ia tidak berada dalam keadaan Fana'. Buktinya, ia masih ingat waktu-waktu shalat dan melakukan ritual-ritual shalat. Itu adalah tanda dari usaha sadar, bukan tanda dari fana', seseorang yang telah fana', tidak menyadari apapun.”

“Bukan begitu,” jawab Syaikh Junayd. “Apa yang kalian katakan tidaklah benar. Orang-orang yang berada dalam ekstasi selalu terpelihara, Allah menjaga mereka, kalau tidak, mereka akan meninggalkan ibadah pada waktunya.”

Kemudian Syaikh Junayd pergi menemui Abu al-Husain An-Nuri.
“Abu al-Husain,” sapa Syaikh Junayd pada an-Nuri. “Jika engkau tahu bahwa berteriak adalah salah satu keuntungan dengan-Nya, maka beri tahukanlah aku, dan aku pun akan ikut berteriak. Jika engkau tahu bahwa kepuasan dengan-Nya adalah lebih baik, maka bertawakkallah, agar hatimu bisa tenang.”

Sejak saat itu, an-Nuri berhenti berteriak. “Engkau benar-benar guru yang hebat bagi kami!” katanya pada Syaikh Junayd.

Dalam kitab Al-Risalah, Imam Al-Qusyairi mengungkapkan beberapa pendapat Abu al-Husain an-Nuri. Salah satu pendapatnya tentang tasawuf, antara lain, “Tasawuf itu meningglkan semua keinginan hawa nafsu. Ada dua hal yang paling mulia, yaitu orang alim yang mengamalkan ilmunya, dan orang arif yang mampu memahami hakekat. Jika ada orang yang mengaku bersama Allah SWT, tapi berani keluar dari batas ilmu agama, sekali-kali jangan engkau mendekatinya.”

Suatu hari Abu al-Husain an-Nuri, berdoa di sebuah tempat yang sangat terpencil. “Ya Allah engkau menghukum para penghuni neraka, mereka semua adalah ciptaan-Mu, melalui ke-Maha Tahuan-Mu, ke-Maha Kuasaan-Mu, dan kehendak-Mu. Jika engkau menghendaki manusia ke dalam neraka, engkaulah yang berkuasa untuk melemparkan mereka ke dalam neraka, dan mengantarkan ke dalam surga.”

Kebetulah seorang sufi, Ja’far Al-Khuldi, mendengar doa itu, dan ia pun sangat takjub. Kemudian suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berkata kepadanya, “Allah memerintahkan agar engkau mengatakan kepada Abu al-Husain, sesungguhnya Allah telah memuliakanmu dan menganugerahkan pahala kepadamu karena doamu.”

Suatu hari, ketika Abu al-Husain an-Nuri mandi di sebuah telaga, pakaiannya dicuri orang. Belum sempat ia mentas dari telaga untuk mengejarnya, pencuri itu telah mengembalikan pakaiannya, karena tiba-tiba tangannya terkena penyakit sampar. Lalu Abu al-Husain berseru, “Ya Allah, karena ia telah mengembalikan pakaianku, sembuhkanlah tangannya,” maka saat itu juga tangan pencuri itu sembuh.

Abu al-Husain an-Nuri wafat pada 295 H /908 M. Banyak kenangan dan pujian yang diungkapkan oleh para sahabatnya ataupun para ulama se zamannya. Salah satunya dari Imam Junayd al-Baghdadi, katanya, “Sejak Abu al-Husain an-Nuri wafat, tidak ada seorang pun yang mampu menceritakan hakikat kebenaran.” Sedangkan Ahmad Al-Maghazili menyatakan, “Belum pernah aku melihat ibadah yang dilakukan lebih khusyuk daripada ibadah Abu al-Husain an-Nuri.”


ReadmoreSyaikh Ahmad bin Muhammad Abu al-Husain an-Nuri

Syaikh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al-Jilli

Syaikh Al-Jilli: Sufi Misterius, Kaya Ilmu, dan Kreatif
Dalam dunia Tasawuf dikenal apa yang disebut “Insan Kamil”, alias manusia yang sempurna. Insan Kamil merupakan derajat spiritual yang paling tinggi, yang menjadi dambaan setiap muslim. Bisa mencapai derajat sebagai Insan Kamil sangat berarti bagi seorang mukmin, karena mereka benar-benar dapat merasakan makna sebagai manusia yang sesungguhnya.

Banyak cara atau metode untuk mencapai derajat tersebut yang dirumuskan oleh para sufi masyhur. Diantaranya, Al-Jilli, dalam kitabnya, Al-Insanul Kamil fi Makrifat al-Awakhir wa Awa’il. Ia menulis pendapatnya tentang Insan Kamil dengan cukup mendetail – sehingga sering dikutip banyak penulis hingga kini.

Nama lengkapnya Abdul Karim ibnu Ibrahim ibnu Khalifah ibnu Ahmad ibnu Mahmud al-Jilli. Kapan ia lahir dan wafat, dimana ia lahir dan wafat, para sejarawan dan pengamat sufi berbeda pendapat. Al-Jilli memang sufi yang misterius, karena riwayat hidupnya juga sangat sulit dilacak. Menurut pengamat sufi Ignaz Goldziher, Al-Jilli lahir di sebuah desa dekat Bagdad yang bernama Al-Jil – yang kemudian dinisbatkan di belakang namanya.

Tetapi hal itu kemudian dibantah oleh Nicholson, pengamat sufi yang lain, dalam sebuah bukunya ia menulis, Al-Jilli bisa diartikan sebagai pertalian nasab, keturunan. Jil atau Jilan menunjukkan bahwa Al-Jilli keturunan orang Jilan, sebuah daerah di wilayah Baghdad. Argumentasi ini sejalan dengan beberapa buku mengenai karya Al-Jilli yang menyebutkan bahwa ia masih keturunan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, pendiri tarekat Qadiriyah.

Menurut Al-Jilli, garis nasabnya tersambung dari cucu perempuan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Tapi beberapa ulama dan pengamat sufi sepakat, Al-Jilli lahir pada bulan Muharram tahun 767 H di Baghdad, Irak. Namun mengenai wafatnya para ulama dan pengamat sufi – seperti At-Taftazani, AJ. Arberry maupun Umar Ridha Kahhalah – tidak sepakat.

Al-Jilli kecil dididik dengan penuh disiplin oleh ayahandanya. Menginjak masa remaja – ketika Baghdad dikuasai pasukan Mongol – ia dan keluarganya hijrah ke Zabid di Yaman. Disinilah ia belajar agama secara intensif, antara lain ia berguru kepada Syaikh Syarafuddin Ismail ibnu Ibrahim Al-Jabarti (W. 806 H). Belakangan ia juga belajar kepada seorang sufi besar di Hindukusy, India, pada 709 H, tapi tidak ada catatan berapa lama ia tinggal di India.

Ia hanya menceritakan beberapa pengalamannya, antara lain ketika berkenalan dengan tokoh-tokoh tarekat, terutama tarekat Naqsyabandiyah, Chisytiyyah, dan Suhrawardiyah. Ia juga menceritakan persahabatannya dengan teman seperguruannya, Syihabuddin Ahmad Raddad (w. 821 H), perjalanannya ke Parsi (kini Iran) untuk bertemu dengan beberapa guru sufi di sana.

Pada akhir 799 H, ia menunaikan ibadah haji. Ketika itulah ia sempat berdiskusi dengan beberapa ulama. 4 tahun kemudian, tahun 803 H, ia berkunjung ke Kairo, sempat mampir Universitas Al-Azhar dan bertemu dengan beberapa ulama. Ia sempat juga berkunjung ke Gaza di Palestina dan bermukim disana selama dua tahun, tapi tak lama kemudian ia kembali ke Zabid, karena ingin mendalami pengetahuannya dengan berguru lagi kepada guru lamanya, Al-Jabarti. Di kota inilah ia wafat pada tahun 805 H / 1402 M.

Seperti halnya para sufi besar lainnya, ia juga menulis kitab tasawuf. Karya-karyanya tergolong berat, salah satunya adalah “Al-Insanul Kamil fi Makrifat Al-Awakhir wa Awa'il – yang telah disebut dimuka, sebuah kitab yang dianggap mendapat pengaruh pemikiran Ibnu Arabi. Kitab Lainnya, Arba'un Mauti'an, yang memuat perjalanan mistisnya, masih tersimpan di Perpustakaan Dar el-Misriyah, Kairo, Mesir.

Kitab lainnya, Bahr al-Hudus wa al-Qidam wal Maujud wa al-Adam, naskahnya tidak ditemukan, tapi disebutkan dalam kitab Maratib al-Wujud. Sementara kitab Akidah al-Akabir al-Muqtabasah min Ahzab wa Shalawat membahas akidah para sufi. Kitab ini tersipan di perpustakaan Tripoli, Libya.

Tapi karya Master Piece nya tetap Al-Insanul Kamil, yang diterbitkan beberapa kali dan tersebar ke seluruh dunia. Beberapa penerbit kesohor dengan bangga menerbitkannya, seperti Muktabah Shabih dan Musthafa al-Babi Al-Halabi, Kairo dan El-Fiqr, Bairut. Kitab yang terdiri dari dua jilid ini memuat 63 bab, 41 bab di jilid pertama, 22 bab di jilid kedua.

Saking menariknya, kitab yang menggelar gagasan Al-Jilli tentang Insan Kamil ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Titus Burkehardt, misalnya menerjemahkan ke dalam bahasa Prancis dengan judul De I’Home Universal, yang kemudian disalin lagi oleh Angela Culme Seymour dalam bahasa Inggris dengan judul Universal Man.

Syarah atau komentar tentang kitab ini ditulis oleh beberapa ulama dalam beberapa kitab. Diantaranya Mudhihat al-Hal fi Sa’d Masmu’at al-Dajjal, susunan Syaikh Ahmad Muhammad ibnu Madani (w. 1071 H/1660 M), yang mengomentari bab 50-54, yang naskahnya tersimpan di Liberary on India Office, New Delhi. Syarah lainnya, Kayf Al-Bayan ‘an Asrar al-Adyan fi Kitab Al-Insanul Kamil oleh Abdul Ghani An-Nablusi (w. 1159 H) dan Syaikh Ali ibnu Hijazi al-Bayumi (w. 1183 H).

Kitab karangan Al-Jilli lainnya, Al-Kahf wa ar-Raqim, memuat dua naskah. Naskah pertama Al-Kahf ar-Raqim al-Kasyif al-Asrar bi Ism Allah al-Rahman al-Rahim, naskah kedua, berjudul Al-Kahf wa Raqim fi Syarh Bimillah al-Rahman al-Rahim. Belakangan kitab ini dicetak ulang oleh Dar al-Ma’arif al-Nidzamiyah, Haiderabat, India, 1917 M. kitab ini merupakan tafsir kesufian terhadap makna Basmalah. Yang menarik ia berusaha menafsirkan surat Al-Fatihah, kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Karya Al-Jilli lainnya yang berkaitan dengan tasawuf, antara lain, Maratib al-Wujud wa Haqiqat al-Kulli Maujud, yang menguraikan secara panjang lebar beberapa hal tentang peringkat “Wujud” dalam ajaran sufi, diterbitkan oleh Maktabah Al-Jundi, Kairo. Al-Jilli juga menulis syarah atas karya Ibnu Arabi, Ar-Risalah Al-Anwar, dalam sebuah kitab yang berjudul cukup panjang: Al-Isfar ‘an al-Risalah al-Anwar fi ma Yatajalla li Ahl al-Dzikir min Asrar li Syaikh Al-Akbar.

Ada satu naskah lagi, Al-Sifah al-Nataij al-Asfar, ditemukan oleh Broclemann, seorang peneliti tasawuf, di Leipzig, Austria. Ada sebuah kitab Al-Jilli lainnya yang hilang, judulnya Al-Marqum al-Sirr al-Tauhid al-Mahjul wa Ma’lum, yang membahas rahasia ke-Maha Esa-an Allah SWT. Keberadaan naskah ini disebut dalam kitab Al-Kamalat al-Ilahiyah.

Ada 28 jilid dari 30 jilid kitab yang raib hingga kini. Ke-30 jilid itu termaktub dalam kitab Al-Daqiqah al-Haqai, dua jilid yang masih bisa ditemukan itu adalah Kitab Al-Uqtah (jilid pertama) dan kitab Al-Alif (jilid kedua). Sampai kini naskah kedua jilid tersebut tersimpan di Dar el-Kutub al-Misriyah, Kairo.

Al-Jilli juga menulis sebuah kitab tentang Akhlak yang luhur yang seharusnya ditempuh oleh seorang sufi, judulnya, Al-Ghunyah Arbab al-Sama fi Kasyf al-Ghina ‘an wajh al-Itsma, yang ia tulis pada 803 H di Kairo. Bukan hanya mngenai akhlak ideal seorang sufi, ia juga menulis kitab mengenai pengalaman-pengalaman sufistisnya. Dalam Al-Manadzir al-Ilahiyah. Kitab ini juga menguraikan dasar-dasar akidah yang wajib diyakini orang muslim, terutama yang menempuh jalan tarekat.

Itulah beberapa kitab yang dikarang oleh Al-Jilli. Produktivitas dan gagasannya masih bisa dibaca hingga sekarang. Kekayaan intelektualnya sungguh sangat mempesona publik tasawuf di seluruh jagat. Al-Jilli meninggal tahun 805 H / 1402 M.


ReadmoreSyaikh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al-Jilli

Dimensi Kemanusiaan Sufisme dan Thariqah

Sufisme atau tasawwuf adalah pemahaman keislaman yang moderat serta bentuk dakwah yang mengedepankan “qaulan kariman” (perkataan yang mulia), “qaulan ma'rufan” (perkataan yang baik), “qaulan maisuran” (perkataan yang pantas), “qaulan layyinan” (perkataan yang lemah lembut), “qaulan balighan” (perkataan yang berbekas pada jiwa), serta “qaulan tsaqilan” (perkataan yang berbobot) sebagaimana yang diperintahkan Al Qur'an. Awal kemunculannya sekitar abad pertama Hijriyah merupakan dakwah untuk mengembalikan ajaran Islam dari penyimpangan batas-batas syari'at.

Hal tersebut dapat kita lihat dalam perjalanan sejarah umat Islam pada saat itu, dimana penguasa sering menggunakan Islam sebagai alat legitimasi ambisi politiknya. Maka sejak itu muncullah kesadaran di kalangan umat Islam untuk mengembalikan pesan orisinil dan sakral yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Kesadaran yang tulus dan ikhlas dari zuhhad dan 'ubbad, seperti Hasan al-Bashri (w.110 H) dan lain sebagainya, akhirnya menjadi sebuah kebangkitan yang menyebar luas ke seluruh dunia muslim. Setelah generasi sahabat dan tabi'in, kebangkitan tersebut lebih dikenal dengan istilah tasawuf atau mutashawwifah.

Tasawwuf merupakan inti sari dari pada ajaran Islam, yaitu wilayah yang mengharmonisasikan dimensi lahiriyah dan batiniyah yang ada dalam diri manusia. Sebagaimana kata “manusia” dalam bahasa Arabnya “al-Insan” memiliki makna harmoni. Menurut Ibnu Manzur dalam Lisanul Arab; kata “al-Insan” (manusia), merupakan kata benda (isim), kata kerjanya (fi'il) “Anas”, bentuk ejektifnya (fa'il) kalau maskulin (muzakar) “Anis”, kalau feminin (muanats) “Anisah”. Kata “Anas”, “Anis”, “Anisah”, “Insan”, “Yu'nis”, “Muanasah”, “Uns”, itu maknanya harmoni, intim, cinta, kasih sayang, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.

Jadi pada dasarnya, manusia di pundaknya memikul amanat untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis, cinta, kasih sayang, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan antara dimensi lahiriyah dan batiniyah. Para insan Sufi yang telah memperoleh pancaran cahaya tasawwuf adalah penegak dan menjunjung tinggi pesan-pesan Islam, etika dan nilai-nilai kemanusiaan karena mereka mampu mewujudkan kehidupan yang harmonis di muka bumi ini. Tidak pandang bulu dengan adanya perbedaan agama, mazhab, suku, negara, apalagi partai politik. Ibnu Arabi (w. 638 H) mampu menjalankan misi tersebut meskipun langkahnya banyak dihujat oleh sebagian ulama. Seperti yang telah beliau kemukakan dalam salah satu syairnya di kitab Zakhair al-A'laq Syarh Turjuman al-Asywaq, ia mengatakan:

Hatiku telah menerima setiap bentuk
Maka padang rumput bagi kijang-kijang dan wihara bagi para rahib
Dan rumah berhala dan Ka'bah orang berthawaf
Dan lembar-lembar Taurat dan mushhaf Al Qur'an
Aku beragama dengan agama cinta, dimana kelompok pecinta selalu
Menghadap, maka agama itu adalah agamaku dan imanku


Menurut Ibnu Arabi, perbedaan-perbedaan yang ada hanya suatu sarana manifestasi eksistensi Tuhan. Pada dasarnya semua bertolak dari misi yang sama yaitu keharmonisan, cinta dan kasih sayang yang merupakan amanat Tuhan pula.

Tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan pancaran cahaya tasawuf (ma'rifatullah) akan didapatkan, namun para mutashawwifah (ahli tasawuf) perlu menempuh tahapan spiritual (maqamat ruhiyyah). Tahapan-tahapan spiritual seperti tobat, wara', zuhud, faqr, sabar, tawakal dan syukur bisa digapai melalui bermacam-macam ibadah, mujahadah dan riyadhah serta menyerahkan segenap jiwa dan raga sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ketika seorang sufi mencapai salah satu tahapan tersebut, maka akan mengalami ahwal, yaitu keadaan pengalaman spiritual dalam mengintropeksi jiwa (muhasabah al-nafs) sebagaimana dijelaskan oleh al-Qusyairi (w. 465 H) dalam Kitab al-Risalah dengan menjelaskan setiap bab, seperti bab al-Muraqabah (kedekatan), al-Mahabbah (cinta), al-Khauf (segan), ar-Raja (optimis), as- Syauq (kerinduan), al-Uns (harmoni), al-Musyahadah (persaksian) dan al-Yaqin (keteguhan) dan lain sebagainya.

Praktek menjalankan ajaran Islam seperti ibadah, riyadhah secara hati-hati dan sungguh-sungguh dengan melewati maqamat yang telah disebutkan diatas, merupakan bentuk tharîqah (jalan) untuk menggapai pancaran cahaya tasawwuf (ma'rifatullah). Thariqah dapat berfungsi untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan nafsu serta sifat-sifatnya, dan menjauhkan hal yang tercela serta mengamalkan yang terpuji. Dengan demikian, thariqah menjadi sangat penting bagi umat Islam yang ingin mensucikan hati dari sifat-sifat kebendaan dan mengisi hati dengan dzikir, muraqabah dan musyahadah kepada Allah SWT. * KH. Dr. Said Aqil Siroj, MA (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

ReadmoreDimensi Kemanusiaan Sufisme dan Thariqah

Kesiapan Menerima Pancaran Cahaya

Datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahaya-Nya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa. Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang lainnya, sesungguhnya tergantung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah Saw bersabda:

“Allah SWT berfirman di hari kiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmat-Ku dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Rasulullah Saw, membaca firman Allah Ta’ala: “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Adapan pancaran cahaya-cahaya-Nya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualitas wirid dan dzikir seseorang.

Dalam kitabnya Latha'iful Minan, Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari menegaskan, “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menanamkan cahaya tersembunyi dalam berbagai ragam taat. Siapa yang kehilangan taat satu macam ibadah saja dan terkaburkan dari keselarasan Ilahiyah satu macam saja, maka ia telah kehilangan nur menurut kadarnya masing-masing. Karenanya jangan mengabaikan sedikit pun atas ketaatan kalian. Jangan pula merasa cukup wirid anda, hanya karena anugerah yang tiba. Jangan pula rela pada nafsu anda, sebagaimana diklaim oleh mereka yang merasa dirinya telah meraih hakikat dalam ungkapannya, sedangkan hatinya kosong…” Jangan keblinger dengan Cahaya atau bentuk Cahaya sebagaimana tergambar dalam pengalaman mengenai Cahaya lahiriyah, baik yang berwarna warni atau satu warna. Cahaya batin sangat berhubungan erat dengan kebeningan batin, tidak ada rupa dan warna yang tercetak. Melainkan pancaran Cahaya keyakinan total kepada-Nya.

Dalam kitab Al-Hikam dijelaskan: “Bagaimana hati bisa cemerlang jika wajah semesta tercetak di hatinya? Bagaimana bisa berjalan menuju Allah sedangkan punggungnya dipenuhi beban syahwatnya? Bagaimana berharap memasuki hadhirat Ilahi sedangkan ia belum bersuci dari jinabat kealpaannya? Atau bagaimana ia faham detil rahasia-rahasia-Nya, sedangkan ia tidak taubat dari kelengahannya?”

Semesta kemakhlukan adalah awal dari hijab Cahaya, dan ikonnya ada pada nafsu syahwat dan kealpaannya. “Siapa yang cemerlang di awal penempuhannya akan cemerlang pula di akhir perjalanannya.” Kecemerlangan ruhani dengan niat suci bersama Allah dalam awal perjalanan hamba, adalah wujud pantulan Cahaya yang diterima hamba-Nya, karena yang bersama Allah awalnya akan bersama Allah di akhirnya.

“Orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada Allah menggunakan petunjuk Cahaya Tawajjuh (menghadap Allah) dan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, baginya mendapatkan Cahaya Muwajahah (limpahan Cahaya). Kelompok yang pertama demi meraih Cahaya, sedangkan yang kedua, justru Cahaya-cahaya itu bagi-Nya. Karena mereka hanya bagi Allah semata, bukan untuk lain-Nya. Sebagaimana dalam Al Qur’an, “Katakan, Allah” lalu tinggalkan mereka (selain Allah) terjun dalam permainan.” Itulah hubungan Cahaya dengan para penempuh dan para ‘arifun, begitu jauh berbeda.

“Cahaya adalah medan qalbu dan rahasia qalbu. Cahaya adalah pasukan qalbu, sebagaimana kegelapan adalah pasukan nafsu. Bila Allah hendak menolong hamba-Nya, maka Allah melimpahkan padanya pasukan-pasukan Cahaya, dan memutus lapisan kegelapan dan tipu daya.”

Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah. “Allah mencahayai alam lahiriyah melalui Cahaya-cahaya makhluk-Nya. Dan Allah mencahayai rahasia batin (sirr) melalui Cahaya-cahaya Sifat-Nya. Karena itulah cahaya semesta lahiriyah bisa sirna, dan Cahaya qalbu dan sirr tidak pernah sirna.”

Pencerahan Cahaya menurut kebeningan rahasia batin jiwa
“Shalat merupakan tempat munajat dan sumber penjernihan dimana medan-medan rahasia batin terbentang, dan di dalamnya Cahaya-cahaya memancarkan pencerahan.” Karena itu cita dan hasrat anda, hendaknya pada penegakan shalat, bukan wujud shalatnya.

“Apabila cahaya yaqin memancar padamu, pasti anda lebih dekat pada akhirat dibanding jarak anda menempuh akhirat itu sendiri. Dan bila anda tahu kebaikan dunia, pasti menampakkan gerhana kefanaan pada dunia itu sendiri.” Maksudnya, nuansa ukhrowi menjadi lapisan baju anda, yang melapisi Nuansa Ilahi. Segalanya terasa dekat tanpa jarak padamu.

“Tempat munculnya Cahaya adalah hati dan rahasia jiwa. Cahaya yang ditanamkan dalam hati adalah limpahan dari Cahaya yang menganugerah dari khazanah rahasia yang tersembunyi. Ada Cahaya yang tersingkapkan melalui makhluk-makhluk semesta, dan ada Cahaya yang tersingkapkan dari Sifat-sifat-Nya. Terkadang hati sejenak terhenti dengan Cahaya-cahaya, sebagaimana nafsu tertirai oleh alam kasar dunia.” Itulah ragam Cahaya, ada Cahaya muncul dari kemakhlukan ada pula Cahaya Sifat-Nya. Tetapi, jangan sampai Cahaya jadi tujuan, agar tidak terhijabi hati kita dari Sang Pemberi Cahaya, sebagaimana terhijabinya nafsu oleh alam kasar dunia.

“Cahaya-cahaya rahasia jiwa ditutupi oleh Allah melalui wujud kasarnya alam semesta lahiriyah, demi mengagungkan Cahaya itu sendiri, sehingga Cahaya tidak terobralkan dalam wujud popularitas penampakan.” Itulah Cahaya yang melimpahi para ‘arifin, auliya’ dan para sufi, yang dikemas oleh cover tampilan manusia biasa. Sebagaimana Rasulullah Saw, disebutkan , “Bukanlah Rasul itu melainkan manusia seperti kalian, makan sebagaimana kalian makan, minum sebagaimana kalian minum.” Ini semua untuk menjaga agar para hamba tidak berambisi popularitas, dan merasa bahwa Cahaya itu muncul karena upayanya.

Cahaya-cahaya para Sufi mendahului wacananya. Ketika Cahaya muncul maka muncullah wacana
Para Sufi dan arifun berbicara dan berwacana, bukan karena aksioma logika, tetapi karena limpahan Cahaya, baru muncul menjadi mutiara kata. Sementara para Ulama, wacananya mendahului cahayanya.

“Ada Cahaya yang diizinkan untuk terbiaskan, ada pula Cahaya yang diizinkan masuk di dalam jiwa.” Ada Cahaya yang hanya sampai di lapis luar hati, tidak masuk ke dalam hati, sebagaimana orang yang menasehati tentang hakikat tetapi dia sendiri belum sampai ke sana. Ada Cahaya yang menghujam dalam jiwa, dan dada menjadi meluas, dengan ditandainya sikap merasa hampa pada negeri dunia penuh tipu daya, dan menuju negeri keabadian, serta menyiapkan diri menjemput maut.

“Janganlah anda menginginkan agar warid menetap terus menerus setelah Cahaya-cahayanya membias dan rahasia-rahasia-Nya tersembunyi.” Itulah perilaku para pemula, biasanya ingin agar Cahaya-cahaya warid itu menetap terus menerus. Padahal suatu kebodohan tersendiri, karena penempuh akan lupa pada Sang Pencahaya.

“Sesungguhnya suasana keistemewaan itu ibarat pancaran matahari di siang hari yang muncul di cakrawala, tetapi Cahaya itu tidak dari cakrawala itu sendiri, dan kadang muncul dari matahari Sifat-sifat-Nya di malam wujudmu. Dan kadang hal itu tergenggam darimu lalu kembali pada batas-batas dirimu. Siang (Cahaya) bukanlah darimu untukmu. Tetapi limpahan anugerah padamu.”

“Cahaya qalbu dan rahasia jiwa tidak diketahui melainkan di dalam keghaiban alam malakut. Sebagaimana Cahaya langit tidak akan tampak melainkan dalam alam nyata semesta” Orang yang mampu memasuki alam malakut adalah yang dibukakan Cahaya qalbu dan jiwanya. Begitu juga nuansa pencerahan Cahaya qalbu dan rahasia qalbu itu, merupakan rahasia tersembunyi di alam Malakut.

Dan lain sebagainya, yang menggambarkan soal pencahayaan ini. Karena berbagai ragam, bisa memberikan sentuhan Cahaya, apakah Cahaya qalbu, Cahaya ruh dan Cahaya Sirr yang memiliki karakteristik berbeda-beda dalam kondisi ruhani para hamba Allah.


ReadmoreKesiapan Menerima Pancaran Cahaya

Menjadi Sufi Yang Kaya Lahiriah Zuhud Batiniah

Menjadi Sufi Yang Kaya Lahiriah Zuhud Batiniah
Di tengah era modern yang diwarnai kehidupan keduniaan (hedonisme) dan materialisme, masyarakat selalu disibukkan oleh aktivitas yang berkenaan dengan pengumpulan materi sebanyak mungkin. Ini seiring dengan tuntutan dan kebutuhan hidup yang makin kompetitif dalam arus globalisasi yang selalu berorientasi bisnis.
Dengan kata lain, manusia hidup di dunia ingin menjadi kaya dengan menempuh cara apa pun, halal atau haram. Keinginan untuk kaya bukan lagi keharusan tetapi sudah menjadi sifat dasar manusia modern.

Dalam tradisi tasawuf, para sufi menempatkan kemiskinan dan al-faqru (kefakiran) pada maqam (jenjang) yang tinggi sebagai salah satu syarat agar dapat wushul (sampai) dan makrifat (mengenal) Allah. Mereka mempraktikkan al-faqru dengan gaya hidup yang benar-benar jauh dari kemewahan dan kemegahan dunia.

Mereka memilih jalan hidup yang penuh penderitaan, kesedihan, cobaan dan kemiskinan. Imam al-Ghazali dalam kitab karangannya Ihya Ulumuddin, memaparkan keunggulan dan keutamaan al-faqru sampai berpuluh-puluh halaman tetapi dalam memaparkan keutamaan harta dan kekayaan hanya sedikit dan sekilas.

Sebenarnya Islam tidak pernah melarang umatnya untuk mengumpulkan harta kekayaan (hubbud dunya) sebanyak mungkin, bahkan menganjurkan umatnya tidak melupakan bagian dunianya di samping akhiratnya. Islam menganjurkan adanya balance kepentingan duniawi dan ukhrawi sebagaimana firman Allah: "... Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah padamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia". (QS. Al-Qashash: 77)

Dikuatkan hadis Nabi Saw yang diriwayatkan Al-Khatib dari Anas ra: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang tidak meninggalkan akhirat untuk memperoleh dunianya dan tidak meninggalkan dunianya untuk memperoleh akhiratnya (tetapi harus keduanya) dan janganlah kamu membuat susah masyarakat".

Islam hanya tidak membenarkan hati kita terlalu kumanthil (melekat, red) terhadap harta benda sehingga dapat melupakan dan melalaikan kewajiban taat dan menyembah Allah SWT. Inilah inti dari sifat zuhud (menghindari dunia). Banyak orang salah mengartikan bahwa zuhud harus miskin dan menderita tanpa harta benda. Padahal pengertian zuhud yang sebenarnya adalah sebagaimana penjelasan Sufi Agung Sufyan as-Tsauri, "Memendekkan angan-angan hati kita kepada urusan dunia bukan berarti makan yang tidak enak dan berpakaian compang-camping".

Jadi bila ada orang yang kaya raya tetapi hatinya tidak selalu memikirkan dunia berarti orang tersebut mempunyai sifat zuhud dan sebaliknya bila ada orang miskin tetapi hatinya selalu memikirkan urusan dunia berarti orang tersebut tidak zuhud tetapi hubbud dunya. Intinya, zuhud bukan dilihat dari kaya atau miskin tetapi dari hatinya.

Pengertian zuhud sendiri dalam Al Qur'an dijelaskan dalam surat Al-Hadid ayat 23: "Supaya kau tidak berputus asa terhadap sesuatu yang telah hilang di hadapanmu dan tidak terlalu gembira terhadap karunia yang datang padamu".

Ada yang unik dari penjelasan Al-Ghazali dalam Ihya-nya: "Az-Zuhdu fi az-Zuhdi bin idhari diddihi" (zuhud dalam pengertian zuhud yang sebenarnya adalah menampakkan perbuatan yang seolah-olah bertentangan dengan zuhud itu sendiri). Beliau mengartikannya kesempatan seorang arif yang zuhud adalah meninggalkan keinginan syahwatnya karena Allah, tetapi terkadang juga menampakkan dirinya mengikuti syahwatnya dengan tujuan menutupi derajat kesufiannya di mata masyarakat sehingga ia tidak terganggu dari penilaian mereka seperti dihormati, dipuji, dikultuskan, diagungkan atau dicela.

Dalam Islam, harta kejayaan bisa menjadi sesuatu yang terpuji bila digunakan untuk kemaslahatan dan kepentingan dunia dan agama, sehingga dalam Al Qur'an, Allah sering menyebut harta dengan khair (kebaikan) dengan catatan banyak atau sedikitnya rezeki tidak ditentukan ketakwaan seseorang tetapi memang sudah ditentukan dalam catatan amal sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Rezeki telah dibagi dan dialokasikan sesuai bagian yang telah ditentukan. Ketakwaan seseorang tidak berarti menambah rezekinya dan kefasikan seseorang tidak pula berarti mengurangi rezekinya".

Seorang sufi ternama, Sa'id bin Musayyab pernah berkata, tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengumpulkan harta dari barang halal. Bahkan Sufyan as-Tsauri dengan tegas mengatakan, "Harta di zaman sekarang adalah senjata ampuh bagi orang mukmin". Rasulullah Saw sendiri mengakui betapa pentingnya harta kekayaan sebagai penopang hidup manusia modern baik urusan dunia maupun agamanya sebagaimana sabda Beliau yang diriwayatkan oleh At-Thabrani: "Apabila akhir zaman datang maka penopang agama dan dunia seseorang adalah dirham dan dinar".

Dari penjelasan di atas, jelaslah menanamkan pola hidup miskin di zaman modern sebagaimana yang diajarkan para sufi terdahulu merupakan konsep usang yang harus ditinggalkan dan sudah tidak cocok dengan era globalisasi sekarang. Terbukti kini banyak para kyai, ulama dan mursyid tarekat yang nota bene pewaris para nabi mempunyai rumah mewah, kendaraan yang sangat mahal dan harta yang berlimpah.

Sebuah pemandangan yang kontras dan jauh berbeda dengan gaya hidup panutannya, Rasulullah Saw.
Beliau menggoreskan sejarah hidupnya dengan hidup miskin tetapi tidak berarti menyuruh atau menganjurkan hidup miskin, sebab kenyataannya banyak sahabat Beliau yang kaya raya bahkan beliau mengawinkan dua putrinya kepada sahabat yang kaya raya, Ustman bin Affan ra. Ketika beliau ditawari hidup kaya oleh Allah, beliau menjawab dengan dua alasan; pertama, beliau malu kepada para nabi dan rasul terdahulu karena mereka merasakan kepedihan luar biasa dalam menyampaikan Risalah Allah, tidak hanya lapar dan miskin tetapi juga cacian, siksaan dan cobaan yang datang silih berganti, toh mereka tetap sabar dan tabah.

Ketika Beliau ditanya tentang kebiasaan seseorang yang berpakaian dan memakai perhiasan bagus, Beliau menjawab: Inna Allah jamilun yuhibbul jamal (Allah adalah Tuhan Yang Maha Indah dan menyukai keindahan). Jadi Beliau juga memberi justifikasi kepada umatnya untuk hidup mewah asal tetap taat dan tidak lalai terhadap kewajiban Allah. Adapun kepada umatnya yang hidup miskin, beliau menghibur dan meyakinkan bahwa Allah akan memberi anugerah yang besar melebihi orang kaya kepada orang miskin di akhirat kelak asal sabar dan menerima.

Yang menarik, ada penjelasan dari seorang sufi besar, Imam as-Syadzili yang selalu menganjurkan hidup "ngota" dan parlente, beliau menyarankan pada para sahabatnya, "Makanlah makanan yang paling lezat, minumlah minuman yang paling enak, berpakaianlah dengan pakaian yang paling mahal sebab bila seseorang telah melakukan itu semua dan berkata "Alhamdulillah", maka semua anggota badannya menjawab dan mengakui dengan bersyukur. Sebaliknya bila seseorang makan hanya gandum dengan garam, berpakaian lusuh, tidur di lantai, minum air tawar kemudian ia berkata, "Alhamdulillah", maka seluruh anggota badannya malah marah, bosan dan mencela pada orang yang mengatakan itu, sebab anggota badan tersebut merasa tidak diberi hak yang selayaknya, tidak sesuai antara pernyataan syukur dan kenyataannya.

Seandainya ia bisa melihat langsung, tentunya ia akan melihat kebosanan dan kemarahannya. Tentunya ia memilih dosa karena membohongi anggota badannya, kalau begitu lebih baik orang yang menikmati kesenangan dunia dengan penuh keyakinan kepada Allah sebab pada hakikatnya orang yang menikmati kesenangan dunia adalah melakukan sesuatu yang diperbolehkan Allah dan barang siapa menimbulkan kebosanan dan kemarahan pada anggota badannya pada hakikatnya melakukan sesuatu yang diharamkan Allah".

Dari penjelasannya, beliau memberikan pembenaran dan pembelaan yang kuat bahwa seorang sufi boleh hidup mewah di dunia dengan catatan memakai pakaian yang mahal dengan niat menampakkan nikmat Allah bukan untuk memuaskan nafsunya. Juga makan dan minum yang lezat dengan niat agar seluruh anggota badannya dapat bersyukur dengan anugerah yang telah diberikan-Nya. Bahkan beliau tidak menghendaki seorang sufi yang miskin, lusuh, kumal, dekil dan kucel. Ini dibuktikan dalam sejarah, beliau selalu memakai pakaian yang mewah dan mahal, berkendaraan yang bagus dan berbagai fasilitas yang serba lux, sangat berbeda dengan gaya hidup para sufi pada umumnya.

Toh beliau tetap mempunyai reputasi dan nama yang harum sebagai sufi agung, dijadikan panutan dan dikagumi hingga sekarang. Sebab kenyataannya beliau menggunakan fasilitas kemewahan dunia semata-mata untuk kepentingan ibadah kepada Allah dan untuk kepentingan umum umat Islam pada zamannya, sebuah ibadah sosial yang dianjurkan dalam Islam. Imam as-Syadzili mengilustrasikan gaya hidup mewahnya dengan sebuah kisah.

Pada suatu hari ada seseorang yang hendak bertemu Imam Abu Hasan Ali al-Syadzili di rumahnya. Karena belum tahu rumahnya, ia bertanya kepada orang lain, orang itu segera pergi ke tempat yang ditunjukkan, begitu sampai ke alamatnya, ia tidak jadi masuk ke rumah itu, karena ia mendapatkan sebuah bangunan rumah bagai istana raja yang sangat indah dan megah. Ia tidak percaya kalau itu rumah tempat tinggal imam yang dicarinya. Dalam hatinya ia yakin bahwa seorang wali tidak akan hidup semewah itu. Seorang wali adalah orang yang hidup sederhana dan pasti mengamalkan zuhud, yaitu sikap menjauhi dunia. Melihat kenyataan itu, ia segera pulang, tetapi di tengah jalan ia berjumpa dengan seorang pengendara kereta kuda yang mewah mempersilahkan naik bersamanya. Dengan penuh rasa waswas akhirnya ia menerima tawaran orang tersebut. Dalam pembicaraan di atas kereta, diketahuilah bahwa pengendara kereta itu tidak lain Imam Abu Hasan al-Syadzili sendiri.

Ketika ia tahu siapa yang ditumpanginya, ia pun tidak berani menyembunyikan niatnya semula dan mengatakan bahwa sebenarnya ia baru saja pergi ke rumah beliau. Namun niat itu digagalkan karena tidak percaya bahwa rumah itu adalah rumah Sang Imam. Mendengar penuturan tersebut, Imam Abu Hasan kemudian memberikan sebuah gelas yang berisi minuman anggur pilihan. Ia sangat kagum karena selama hidupnya belum pernah melihat dan meminum anggur semacam itu. Rasa kagum itu membuatnya merasa takut kalau anggur itu tumpah atau gelasnya terlepas dari genggamannya. Apalagi kereta yang ia tumpangi sedang lari kencang mengelilingi kota. Seluruh perhatiannya tertuju pada gelas dan anggur sehingga ia tidak bisa menikmati indahnya perjalanan dan megahnya pemandangan kota sekelilingnya.

Setelah selesai mengelilingi kota, kereta beliau berhenti di halaman rumahnya tanpa disadari orang tersebut, ia terus saja memperhatikan anggurnya. Ia baru sadar setelah Sang Imam bertanya kepadanya: "Bagaimana perjalanan tadi, apakah kamu bisa menikmati keindahan kota ini?" Ia tidak bisa menjawab karena selama perjalanan memang tidak melihat apa-apa selain anggur yang ada di tangannya. Sebelum orang itu menjawab, Imam Syadzili melanjutkan kata-katanya, "Nah, antara kamu, keindahan kota dan anggur di tanganmu itu ibarat aku sendiri dengan hartaku dan Allah dalam batinku. Karena perhatianku hanya tertuju kepada Allah, aku tidak pernah peduli apakah kota ini indah atau tidak." Orang itu memahami apa yang dilihat dan didengarnya. Ia gembira karena mendapatkan pelajaran zuhud dari Sang Imam.


ReadmoreMenjadi Sufi Yang Kaya Lahiriah Zuhud Batiniah

Abu Dzarr al-Ghiffari: Pelopor Gerakan Hidup Sederhana

Kehidupan sufi tidaklah seperti yang dibayangkan orang selama ini. Di ruang gua yang sempit di tengah hutan atau di puncak menara. Stigma mementingkan kesalehan pribadi dan mengabaikan kesalehan sosial yang selalu dilekatkan pada ajaran spiritual ini mungkin perlu ditelaah ulang. Jika kita mau merunut akar sejarah sufi hingga zaman sahabat Nabi Muhammad Saw, justru kita akan menemukan pribadi-pribadi yang sangat membenci dan menentang terjadinya ketimpangan sosial.

Abu Dzarr al-Ghifari ra adalah tokoh sufi yang sangat disegani di kalangan sahabat. Meskipun enggan dengan kekayaan, ia sangat memikirkan kesejahteraan rakyat. Beliau tidak henti-hentinya menyuarakan pemerataan ekonomi di masyarakat. Ia tidak rela melihat ketimpangan dan gap yang curam antara si miskin dan si kaya. Ia berteriak dari Syiria hingga ke pusat pemerintahan Islam di Madinah agar si kaya tidak menumpuk kekayaan pribadi.

"Wahai orang-orang kaya, bantulah yang miskin. Orang-orang yang menumpuk kekayaan dan tidak mendermakannya di jalan Allah, akan dipanggang di neraka." Kalimat itu seringkali diteriakkan oleh Abu Dzarr di Syiria, pada masa pemerintahan Utsman bin Affan ra. Serentak, rakyat kecil yang berekonomi lemah menjadi pendukung Abu Dzarr. Mereka meneriakkan kalimat yang sama di seluruh penjuru Syiria - mirip orasi massif kaum proletar dalam pergulatan sosialisme modern.

Orang-orang kaya merasa terganggu dengan "kritik" tajam Abu Dzarr tersebut, hampir mirip barangkali dengan kondisi para borjuis di masa Perang Dingin yang sangat risih dengan ide sosialisme. Mereka mengadu kepada pemerintah Syiria. Mu'awiyah, yang saat itu menjabat Gubernur Syiria, segera mengirim Abu Dzarr ke Khalifah Ustman di Madinah.

Di hadapan Khalifah, Abu Dzarr mempertegas pandangannya bahwa orang-orang kaya tidak semestinya menumpuk harta. Ia kemudian membaca firman Allah dalam Surah at-Taubah bahwa orang-orang yang menumpuk emas-perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah, mereka akan mendapat siksa yang pedih dan dipanggang di neraka.

Di hadapan Khalifah, Abu Dzarr didebat oleh Ubay bin Ka'b. Ia bilang: "Tidak masalah, orang kaya menyimpan harta, asal ia memenuhi kewajiban yang terkait dengan kekayaannya itu". Abu Dzarr berang. Beliau tetap bersikeras dengan pandangannya. "Aku tidak rela dengan orang-orang kaya, sehingga mereka membagikan hartanya dan berbuat baik kepada orang di sekelilingnya ….," tegasnya kepada Khalifah.

Abu Dzarr dengan segala kesufiannya memiliki kepekaan sosial yang begitu tinggi terhadap kondisi masyarakat di sekelilingnya. Ia hidup berzuhud, tidak suka harta, tapi memiliki gagasan yang revolusioner mengenai kesejahteraan.

Dengan gagasannya itu, Abu Dzarr dianggap sebagai simbol pembela orang-orang kecil yang proletar. Ide sosialisme Islam semacam Abu Dzarr inilah yang kemudian diusung oleh kelompok Islam sosialis Indonesia beberapa dekade setelah kemerdekaan. Beberapa tokoh Muslim sosialis meneriakkan pembelaan terhadap rakyat kecil dengan menggunakan kata mustadl'afin, sebuah term yang akrab sekali dengan pembelaan Al Qur'an terhadap Muslimin yang tertindas di Mekkah. Mereka menemukan akarnya dalam Islam dan menjadikannya dasar atas kecenderungan mereka yang memihak terhadap paham sosialisme yang di adopsi dari Eropa pada masa Perang Dingin.

Meski sama-sama pembelaan terhadap rakyat jelata, ide dan semangat Abu Dzarr sangat berbeda dengan sosialisme modern. Abu Dzarr tidak mendasarkan paham ekonominya sebagai gerakan politik. Beliau tidak memiliki kepentingan dan tendensi apa pun dengan pahamnya itu.

Meskipun ada yang menengarai bahwa beliau dipengaruhi oleh Abdullah bin Saba', politisi pengacau pada masa pemerintahan Utsman. Bahkan, adapula yang berupaya mengaitkan paham Abu Dzarr dengan paham sosialisme ekstrim Mazdak di Persia, yang menyatakan bahwa harta dan wanita adalah aset umum yang tidak bisa menjadi milik pribadi. Tuduhan ini terlalu berlebihan.

Abu Dzarr tidak dipengaruhi oleh siapa pun. Beliau membenci penimbunan kekayaan semenjak awal masuk Islam. Dan, pandangan itu terus beliau pegang sampai dijemput ajal sendirian di Rabdzah, sebuah pelosok di timur Madinah.

Sebagai sufi yang tak memiliki kecintaan apapun terhadap harta, Abu Dzarr sangat risih dengan watak serba materialistik pada saat itu. Bukan karena sentimen terhadap orang-orang kaya, tapi berjuang menghadang watak rakus yang menjalar dengan sangat cepat dan mengakar di tengah-tengah masyarakat. Fokus Abu Dzarr bukan mengubah orang miskin menjadi kaya, tapi mengubah watak orang-orang kaya agar tidak rakus, tertumpu pada materi dan gila harta.

Ketimpangan sosial di sekitarnya ia jadikan sebagai sarana untuk mengubah moralitas orang-orang kaya agar mau berbagi, tidak menumpuk kekayaan dan tidak "mempertuhankan" materi. Abu Dzarr memberikan warna yang unik dalam tasawuf dan paham kesejahteraan masyarakat. Di satu sisi beliau suka hidup miskin, di sisi lain beliau meneriakkan pemerataan ekonomi dan mengecam orang-orang kaya.

Protesnya terhadap orang-orang kaya, bukan karena dirinya miskin. Tapi, karena muak dengan kecenderungan materialistik mereka. Dari situ yang muncul sebagai esensi dalam paham ekonomi sufistik Abu Dzarr adalah pembentukan moralnya, sedangkan pemerataan ekonomi atau kesejahteraan bersama merupakan efek dari pembentukan moral itu. Ekonomi sufistik Abu Dzarr ini bisa dinalar dengan logika ekonomi dan tasawuf sekaligus. Logika ekonominya adalah jika orang-orang kaya menjadi zuhud, maka seluruh komponen masyarakat akan sejahtera. Sedangkan logika sufistiknya adalah jika orang-orang kaya mau berbagi, maka mereka menjadi orang-orang yang zuhud dan bermoral tinggi.

Sebagai falsafah hidup pribadi atau gerakan spiritual, teori ekonomi sufistik ala Abu Dzarr adalah sebuah ide yang betul-betul cemerlang. Tapi, untuk menjadi ideologi masyarakat, teori Abu Dzarr ini hampir menjadi sebuah utopia. Mungkin karena itu juga, Ustman berkata sebagai jawaban atas desakan Abu Dzarr: "Wahai Abu Dzarr, tidak mungkin kita membawa masyarakat menjadi zuhud semua. Yang harus aku lakukan adalah mengatur mereka dengan hukum Allah dan memberikan anjuran agar mereka hidup sederhana.


ReadmoreAbu Dzarr al-Ghiffari: Pelopor Gerakan Hidup Sederhana

Tasawuf dan Gugurnya Kewajiban Syari'at

Tasawuf dan Gugurnya Kewajiban Syariat
Kita sering menemukan adanya provokator dalam setiap bidang kehidupan, baik dalam bidang keagamaan, politik, keilmuan bahkan dalam bidang tasawuf itu sendiri. Tujuan para provokator tersebut sangat jelas, yakni memperoleh keuntungan materiil dengan jalan pintas.

Agar agama, ilmu pengetahuan maupun tasawuf tidak menjadi suatu ilmu yang disalahfahami, maka kita perlu menjelaskan bagaimana para provokator menyembunyikan wajahnya.

Agama dan ilmu pengetahuan memiliki kebenaran dan karakteristiknya sendiri yang sangat jelas, sehingga bisa menjadi “alat ukur” untuk mengungkap berbagai kebohongan dan kebatilan yang telah dilontarkan oleh para pendusta. Begitu juga dengan tasawuf.

Kami kemukakan hal di atas, karena berkaitan dengan apa yang pernah kami dengar berkaitan dengan adanya bid’ah dlalalah (bid’ah yang sesat) yang telah meresap dalam sebagian hati orang-orang yang belum mendalami agama secara khusus dan tasawuf secara umum.

Bid’ah ini memandang bahwa seseorang yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat tertentu, ia dibebaskan dari kewajiban syari’at, sehingga ia boleh meninggalkan shalat, zakat, haji dan lain-lain yang telah menjadi kewajiban seorang muslim. Ironisnya, pandangan tersebut pertama kali dimunculkan oleh mereka yang menggeluti bidang hukum dan syari’at. Mereka mengaku bahwa dirinya telah sampai pada tingkat ma’rifat tasawuf yang tertinggi dan sampai pada satu kondisi yang menurut anggapan mereka sudah tidak diwajibkan lagi menjalankan kewajiban syari’at.

Ketika saya melacak sumber "ma’rifat" mereka, maka anda pasti akan sangat heran, karena sumber pengetahuan mereka tidak lain adalah ruh-ruh yang sengaja mereka hadirkan - yang menurut mereka - melalui perantaraan tubuh seseorang. Ruh-ruh tersebut memberikan informasi kepada mereka mengenai berbagai persoalan ghaib dan lain-lain.

Perbuatan bid’ah yang berupa “menghadirkan ruh” telah begitu tersebar dan populer di kalangan mereka. Kegiatan tersebut telah menjadi “agama” mereka. Dalam pandangan mereka, informasi yang diberikan ruh tersebut mengalahkan kedudukan al-Qur’an dan Sunnah.

Lebih ironis lagi, mereka justru mengaku sebagai pengamal ajaran tasawuf. Mereka menganggap diri mereka sebagai tokoh sufi, orang ‘arif dan orang yang memperoleh ilham. Bahkan ada yang sudah keterlaluan karena mengaku sebagai seorang wali. Ada juga yang mengaku sebagai seorang rasul. Bahkan ada yang berani mengaku bahwa dirinya adalah Isa (‘alaihi salam), kemudian ada juga yang mengaku sebagai Nabi Muhammad Saw.

Yang lebih keterlaluan lagi, ada yang bahwa “kemanusiaan” yang ada dalam dirinya telah lenyap dalam sekejap, kemudian mengaku kepada para pengikutnya bahwa “Tuhan telah menyatu dengan dirinya”. Semua pengakuan orang tersebut selalu diperkuat dan didukung oleh ruh yang dihadirkannya. Ruh tersebut selalu membenarkan apa yang dikatakan orang tersebut. Maha benar Allah SWT, karena Dia memberikan perumpamaan tentang orang yang berhubungan dengan jin dan berpaling dari jalan kebenaran.

“Dan ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al-Jin: 6).

Mungkin anda akan bertanya: “Apakah ada hubungan antara menghadirkan ruh dengan tasawuf?” Jawaban ahli tasawuf tentang hal itu sangat jelas, bahwa antara menghadirkan ruh dengan tasawuf sama sekali tidak memiliki keterkaitan, justru sebaliknya, keduanya saling bertentangan. Para ahli tasawuf menganggap bahwa menghadirkan ruh termasuk perbuatan pembodohan, karena hal itu sama saja dengan bekerja sama dengan jin dan syaitan. Allah SWT berfirman tentang hal itu.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta” (QS. Al-Syu’ara: 221-223).

Allah Swt juga berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” (QS. Al-Zuhruf: 36-37).

Tujuan tulisan kami di sini hanyalah untuk menjelaskan pandangan tasawuf tentang “gugurnya kewajiban-kewajiban syari’at”. Persoalan ini sering dianggap bukan sebagai sesuatu yang bid’ah (mengada-ada) oleh mereka yang mengaku sebagai orang sufi di era modern ini. Sesungguhnya, persoalan tersebut merupakan kesesatan yang telah ada sejak lama dan telah muncul di tengah-tengah masyarakat, kemudian dianggap sebagai salah satu dasar ajaran tasawuf. Suatu anggapan yang sangat keliru dan ditentang oleh tokoh-tokoh sufi yang sejati kapanpun dan di manapun mereka berada.

Yang pasti, jika ada beberapa problem atau permasalahan, maka yang menjadi rujukan dalam penyelesaiannya adalah mereka yang benar-benar menguasai bidang permasalahan tersebut. Oleh karena itu, ketika kami merujuk pada tokoh-tokoh tasawuf yang tidak lagi diragukan kredibilitasnya, baik mereka yang hidup di masa lalu maupun di era modern sekarang ini, semuanya sangat mengingkari dan menentang pendapat di atas. Mereka menganggap bahwa gagasan tentang “gugurnya kewajiban syari’at” merupakan gagasan atau pendapat yang menyesatkan, penuh kebohongan dan tidak sejalan dengan ajaran agama secara umum. Kami akan membicarakan tentang pendapat sebagian ahli tasawuf klasik mengenai persoalan tersebut.

Syaikh Abu Yazid al-Busthami pernah berkata kepada salah seorang temannya: “Marilah kita sama-sama melihat seorang lelaki yang mengaku dirinya sebagai seorang wali” - dan dia memang dikenal ke-zuhud-annya. Kemudian, ketika laki-laki tadi keluar dari rumahnya dan memasuki masjid, dia membuang ludahnya ke arah kiblat. Melihat kejadian tersebut, Abu Yazid langsung bergegas meninggalkannya dan tidak memberi salam kepadanya, lalu beliau berkata: “Laki-laki tadi tidak bisa mengamalkan akhlaq Rasulullah Saw, bagaimana mungkin pengakuannya (sebagai seorang wali) bisa dipercaya?”

Syaikh Abu Yazid al-Busthami juga pernah berkata: “Kalian jangan tertipu, jika kalian melihat seseorang yang memiliki karamah -meski dia bisa terbang di udara-, sampai kalian melihat bagaimana orang tersebut melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT, menjaga dirinya dari hudud (hukum pidana Allah SWT) dan bagaimana dia melaksanakan syari’at Allah SWT.”

Sahl al-Tustari mengatakan tentang pinsip-prinsip dasar tasawuf: “Dasar-dasar tasawuf itu adalah tujuh, yaitu berpegang teguh pada al-Qur’an; meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw; memakan makanan yang halal; menahan diri dari menyakiti (orang lain); menjauhi maksiat; senantiasa bertaubat; dan memenuhi segala yang telah menjadi kewajibannya”.

Imam Al-Junayd, seorang tokoh dan Imam para sufi, berkata - sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi: “Barang siapa yang tidak menghafal al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka janganlah ia mengikuti jalan tasawuf ini, karena ilmu kami ini berasal dari dalil-dalil al-Qur’an dan sunnah.” Beliau menambahkan: “Ilmu kami ini selalu diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw”. Beliau juga berkata: “Pada dasarnya jalan tasawuf itu tertutup bagi semua orang, kecuali bagi mereka yang memilih jalan yang ditempuh Rasulullah Saw, mengikuti sunnahnya dan terus tetap berada di jalannya.”

Pernah ada seorang laki-laki yang menuturkan tentang ma’rifat di hadapan Imam Al-Junayd dengan berkata: “Ahli ma’rifat kepada Allah SWT akan sampai pada satu kondisi dimana ia bisa meninggalkan perbuatan baik apapun dan ber-taqarrub kepada Allah SWT". Mendengar perkataan orang tersebut, Imam Al-Junayd berkata: “Itulah pendapat sekelompok orang yang menyatakan tentang ‘gugurnya amal perbuatan’, dan hal ini, menurutku, merupakan suatu kesalahan atau dosa yang sangat besar. Bahkan orang yang mencuri dan berzina masih lebih baik keadaannya daripada orang yang mengatakan pendapat tersebut”.

Jika kita menengok pada Imam al-Ghazali, maka kita akan melihat bahwa beliau menyatakan pendapatnya dengan tegas, jelas dan kuat argumentasinya. “Ketahuilah, bahwa orang yang menempuh perjalanan menuju Allah SWT itu sangat sedikit jumlahnya, namun mereka yang mengaku-aku sangat banyak jumlahnya. Kami ingin anda mengetahui seorang salik yang sebenarnya, antara lain; semua amal perbuatannya yang bersifat ikhtiyari selalu selaras dengan aturan-aturan syari’at, baik keinginannya, aktualisasinya maupun performansinya. Karena tidak mungkin bisa menempuh jalan tasawuf, kecuali setelah ia benar-benar menjalankan syari’at. Tidak ada orang yang akan sampai (pada tujuan tasawuf), kecuali mereka yang selalu mengamalkan amalan-amalan sunah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang yang meremehkan kewajiban-kewajiban syari’at bisa sampai (pada tujuan tasawuf tersebut)?”

Jika anda bertanya: “Apakah kedudukan salik akan sampai pada suatu tingkatan di mana ia boleh meninggalkan sebagian yang menjadi kewajiban syari’atnya dan atau melakukan sebagian perbuatan yang dilarang oleh syari’at, sebagaimana pendapat sebagian syaikh yang menggampangkan persoalan tersebut?”

Jawabanku: “Ketahuilah, bahwa pendapat tersebut merupakan bentuk tipuan dan kebohongan yang nyata, karena orang-orang sufi sejati mengatakan: "Jika engkau melihat seseorang yang dapat terbang di atas udara dan berjalan di atas air tetapi dia melakukan satu hal yang bertentangan dengan syari’at, maka ketahuilah bahwa dia adalah syaitan".”

Selanjutnya, kita sampai pada pendapat Syaikh Abul Hasan al-Syadzili yang mengatakan: “Jika kasyf-mu bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka berpeganglah kepada al-Qur’an dan Sunnah dan abaikanlah kasyf-mu itu, lalu katakan pada dirimu sendiri; sesungguhnya Allah SWT telah memberikan jaminan tentang kebenaran al-Qur’an dan Sunnah kepadaku, tetapi Allah SWT tidak memberikan jaminan kepadaku tentang kebenaran kasyf, ilham dan musyahadah kecuali setelah dikonfirmasikan dengan al-Qur’an dan Sunnah”.

Orang-orang sufi mengikuti semua petunjuk yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah, baik Sunnah qauliyah (perkataan Nabi) maupun Sunnah ‘amaliyah (perbuatan Nabi). Mereka pasti sangat menyadari akan kebenaran sejarah bahwa Rasulullah Saw adalah contoh ideal dalam segala hal hingga akhir hayatnya.

Itulah beberapa pendapat dari kalangan sufi klasik. Sebagai penutup, kami kutipkan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw. Beliau pernah ditanya tentang sekelompok orang yang meninggalkan amal perbuatan atau kewajiban agama, tetapi mereka ber husnudzan (berprasangka baik) kepada Allah SWT. Rasulullah Saw menjawab: “Mereka itu bohong, kalau mereka itu berprasangka baik, tentu baik pula amal perbuatan mereka”. * Syaikh Abdul Halim Mahmud (Mantan Rektor al-Azhar Mesir)

ReadmoreTasawuf dan Gugurnya Kewajiban Syari'at